
Bagi kalian para pembenci yang senang menghina Persib dengan sebutan “El Sosmed”, simpan dulu tawamu. Sebelum jempolmu mengenal tombol like, sebelum kakekmu mungkin mengenal radio, Persib Bandung sudah mengajari bangsa ini cara menjadi Viral.
Kalian pikir fenomena “meledaknya” trafik media internasional saat memberitakan Persib adalah hal baru? Kalian salah besar. Mari kita bicara sejarah yang presisi. Kita buka lembaran Mei 1937.
Final PSSI 1937 bukan sekadar pertandingan bola; itu adalah “Gempa Komunikasi” pertama di Nusantara. Persib harus menyeberangi Jawa untuk menantang raksasa tuan rumah, Persis Solo, di Stadion Sriwedari. Di zaman tanpa live streaming, ribuan orang di Bandung gelisah. Mereka tidak bisa melihat langsung, tapi mereka butuh “update”. Kantor koran Sipatahoenan di Jalan Banceuy berubah menjadi pusat gravitasi massa. Orang-orang berdesakan di depan papan pengumuman, menunggu telegram dari Solo yang mengabarkan setiap detak jantung pertandingan. Inilah “Live Tweet” versi tahun 30-an!
Begitu telegram tiba dengan kabar kemenangan 2-1 melalui gol Iskandar dan Sabirin, Bandung meledak. Persib Juara! Dan di saat itulah, “algoritma” massa membuktikan kekuatannya. Jangan sebut kami besar karena internet. Kami besar karena sejarah. Lihat bagaimana koran-koran nasional berebut memberitakan keperkasaan Persib di Solo saat itu:
Koran Sipatahoenan (Bandung): “Ti mimiti sore, jalma-jalma geus mimiti merul ka kantor Sipatahoenan. Kabeh nanyakeun: ‘Kumaha Bandung di Solo?’… Bandung harita keneh jadi lautan kabungah!” (Membuktikan kantor koran sudah berfungsi sebagai pusat engagement fisik).

AID De Preangerbode (Belanda): “De overwinning van de Bandoengers in Solo heeft hier een enorme sensatie teweeggebracht…” (Mengakui kemenangan Persib memicu “Sensasi Luar Biasa” secara nasional). Soerabaijasch Handelsblad (Surabaya): “Bandoeng heeft getoond dat zij over de beste techniek beschikt.” (Membuktikan berita Persib sudah viral lintas provinsi hingga ke Jawa Timur).
Setiap kali Persib menang, oplah koran melonjak tajam. Persib adalah alasan mengapa mesin cetak di Jalan Banceuy harus bekerja lembur. Di tahun 1937, “Like” kami adalah lembaran koran yang ludes terjual, dan “Followers” kami adalah ribuan orang yang memadati Stasiun Bandung hanya untuk melihat piala pertama tiba.

Jadi, jika hari ini media Prancis sekelas L’Équipe atau portal transfer Foot Mercato gemetar melihat jutaan Bobotoh menyerbu kolom komentar mereka demi berita Layvin Kurzawa, itu bukan kebetulan. Itu adalah Genetik Media yang sudah kita bawa sejak hampir seabad lalu!
1937: Oplah koran naik karena telegram kemenangan dari Solo.
2026: Traffic situs web Eropa meledak karena setiap klik dari Bobotoh.
1937: Kerumunan di Jalan Banceuy adalah Trending Topic fisik.
2026: #Persib adalah penguasa mutlak algoritma digital.
Menghina Persib sebagai “El Sosmed” sama saja dengan menghina sejarah literasi dan komunikasi bangsa ini. Persib adalah alasan mengapa industri media di Bandung tumbuh pesat sejak zaman penjajahan. Persib terbukti sanggup “memacetkan” arus informasi nasional sejak tahun 30-an.
Kami tidak “mengejar” sosmed. Sosmed-lah yang mengejar kami. Karena dari Sriwedari 1937 hingga GBLA 2026, rumusnya tidak pernah berubah: Siapa pun yang memegang nama Persib di beritanya, dia sedang memegang kunci emas perhatian dunia.
Kami bukan sekadar klub bola. Kami adalah institusi media yang punya massa sebelum platformnya ada. Jadi bagi kalian para haters, silakan terus mengetik cemoohanmu, karena setiap ketikanmu hanya akan menambah statistik kekuatan kami sebagai Raja Media yang sesungguhnya!
Persib adalah EL SOSMED. Dulu, Sekarang, dan Selamanya!
*)Sumber Facebook Tukangeun Gawang

































