Persib Menolak Mati pada Peristiwa Bandung Lautan Api 1946

0
8
Peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946.

JURNALIFE.COM – Ada sebuah rahasia yang terkubur di bawah rumput stadion-stadion di Bandung. Sebuah rahasia yang menjelaskan mengapa bagi orang Bandung, Persib bukan sekadar klub sepak bola, melainkan sepotong harga diri yang diselamatkan dari abu pembakaran. ​Sebelum api membumbung di tahun 1946, sepak bola Bandung lebih dulu dipaksa mati suri oleh kedatangan Jepang pada 1942. Harapan bahwa “Saudara Tua” akan membawa kebebasan segera sirna. Jepang tidak hanya menjajah tanah, mereka menjajah kegembiraan rakyat.


​Persib dilarang. Nama “Indonesia” dalam Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung dianggap sebagai ancaman bagi fasisme Jepang. Stadion-stadion yang dulunya riuh oleh sorak-sorai rakyat, berubah sunyi dan mencekam. Lapangan bola beralih fungsi menjadi barak militer atau tempat latihan taiso (senam Jepang) yang wajib diikuti dengan penuh ketakutan. Pemain-pemain hebat era BIVB, seperti Moeradi, harus menyembunyikan identitas mereka. Sepak bola yang merdeka dilarang total; semua kegiatan olahraga harus di bawah kendali Tai Iku Kai. Para pemain yang dulu gagah kini kurus kering karena krisis pangan. Mereka dipaksa bertahan hidup di tengah bayang-bayang romusha dan ancaman Kempeitai (polisi rahasia Jepang) yang siap menangkap siapa saja yang berani mengorganisir massa, termasuk melalui sepak bola.

​Maret 1946. Udara Bandung tidak lagi beraroma bunga, melainkan bau sangit mesiu. Ultimatum Sekutu turun: Bandung harus dikosongkan. Rakyat diberi pilihan pahit: menyerahkan kota ini utuh kepada penjajah Belanda (NICA) yang membonceng Sekutu, atau menghancurkannya agar musuh tak bisa menggunakannya. ​Para pejuang, termasuk tokoh-tokoh Persib, memilih jalan yang paling menyakitkan: Bandung Lautan Api. Rumah-rumah dibakar, gedung-gedung diledakkan, dan lapangan tempat mereka berlatih dilalap api. Bandung sengaja dibakar agar markas-markas strategis tidak menjadi benteng bagi musuh untuk kembali menjajah Indonesia.

Di antara ratusan ribu orang yang berjalan tertatih menuju pegunungan di Selatan, ada tangan-tangan yang biasanya lincah menggiring bola. Mereka membawa kesedihan yang sama: melihat rumah dan stadion mereka hangus demi sebuah kedaulatan. Bagi para punggawa Persib, “perlawanan” bukan lagi soal mencetak gol. Banyak dari mereka melepas kostum biru-putih dan mengenakan seragam hijau lusuh pejuang. Kaki-kaki yang biasanya melakukan tiki-taka lincah, kini harus berlari menghindari desingan peluru di gang-gang sempit Bandung. ​Namun, sejarah membuktikan bahwa api hanya bisa membakar fisik, bukan jiwa. Tahun 1950, ketika Bandung masih berupa puing dan luka, Persib bangkit kembali.

Para pemain yang selamat dari perang—mereka yang masih memiliki sisa tenaga dari kerasnya hidup di pengungsian—berkumpul kembali. Lahirlah sosok seperti Aang Witarsa, sang “Kuda Terbang”, yang berlari di lapangan seolah-olah ia sedang mengejar kemerdekaan yang hampir dirampas. ​Kemenangan Persib di era pasca-perang bukan sekadar angka di koran Sipatahoenan. Setiap gol adalah pesan kepada dunia: ​”Kalian bisa merepresi kami dengan bayonet Jepang, kalian bisa memaksa kami membakar kota kami sendiri, tapi kalian tidak akan pernah bisa membakar cinta kami pada Persib dan tanah air ini.”

Itulah mengapa, hingga hari ini, PERSIB Bandung memiliki hubungan batin yang sangat kuat dengan militansi pendukungnya. Persib lahir dari perlawanan, dibaptis oleh api Bandung Lautan Api, dan dirawat oleh cinta yang tak masuk akal. ​Persib bukan sekadar tim sepak bola. Persib adalah Bandung yang menolak untuk menyerah pada api sejarah.

Sumber : Facebook Tukangeun Gawang

persibbandung #bandunglautanapi #sejarahpersib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here