Legenda Situ Bagendit, Kisah Asal Usul Danau Ikonik di Garut yang Sarat Pesan Moral

0
14
Legenda Situ Bagendit
Objek wisata Situ Bagendit di Kabupaten Garut - Tribun Priangan.com/

JURNALIFE – Situ Bagendit merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Terletak di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, danau ini tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata rekreasi, tetapi juga menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat sekitar.

Dalam beberapa waktu terakhir, objek wisata Situ Bagendit telah mengalami berbagai pembaruan penampilan. Penataan kawasan yang lebih modern membuat pengunjung dapat menikmati beragam aktivitas wisata, mulai dari wisata perahu, bersantai di tepi danau, hingga menikmati panorama alam yang indah.

Di balik keindahan alam dan daya tarik wisatanya, Situ Bagendit menyimpan sebuah cerita legenda yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Garut. Konon, nama Situ Bagendit diambil dari tokoh utama dalam cerita rakyat tersebut. Legenda ini dipercaya sebagai asal-usul terbentuknya Situ Bagendit sekaligus mengandung pesan moral yang patut direnungkan.

Berikut kisah legenda Situ Bagendit yang dikutip dari situs resmi Kabupaten Garut.

Legenda Situ Bagendit

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang perempuan kaya bernama Nyai Bagendit di sebuah desa di wilayah Jawa Barat. Nyai Bagendit hidup seorang diri setelah suaminya meninggal dunia, mewariskan harta kekayaan yang sangat melimpah berupa uang, emas, dan tanah.

Namun, kekayaan tersebut justru membuat Nyai Bagendit dikuasai rasa takut akan jatuh miskin. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat kikir dan memiliki perangai buruk. Sikapnya terhadap warga sekitar pun sangat tidak ramah.

Nyai Bagendit memang bersedia membantu warga yang sedang kesulitan, tetapi dengan syarat bunga utang yang sangat tinggi. Jika ada warga yang terlambat membayar, orang-orang suruhannya tak segan bersikap kasar bahkan menyita harta benda milik warga tersebut. Sifatnya yang gemar memamerkan kekayaan semakin membuat Nyai Bagendit tidak disukai masyarakat desa.

Suatu hari, Nyai Bagendit tengah bersantai di halaman rumah sambil menghitung uang dan emas miliknya. Tiba-tiba datang seorang kakek tua pengembara yang berjalan tertatih dengan tongkat. Sang kakek meminta sedikit air minum karena kehausan.

Bukannya menolong, Nyai Bagendit justru memaki kakek tersebut dengan kata-kata kasar dan mengusirnya dari halaman rumah. Perlakuan tersebut membuat sang kakek merasa sedih dan kecewa. Sebelum pergi, ia menancapkan tongkatnya ke tanah di depan rumah Nyai Bagendit sambil memperingatkan bahwa perempuan kaya itu akan menerima pelajaran atas perbuatannya.

Nyai Bagendit sama sekali tidak menghiraukan peringatan tersebut. Ia justru menertawakannya dengan ejekan, lalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan kakek itu sendirian di luar.

Tak lama kemudian, kakek tersebut mencabut tongkat yang ditancapkannya. Ajaibnya, dari bekas tongkat itu memancar air dengan sangat deras. Air terus mengalir hingga menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan desa tempat Nyai Bagendit tinggal. Warga desa berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Sementara itu, kakek pengembara tersebut menghilang entah ke mana. Nyai Bagendit baru menyadari datangnya banjir saat air telah meninggi. Alih-alih menyelamatkan diri, ia justru sibuk mengumpulkan dan membawa harta kekayaannya.

Nyai Bagendit akhirnya meminta pertolongan sambil membawa sekotak uang dan emas. Namun, tidak ada satu pun warga yang mendengar teriakannya karena semuanya telah lebih dulu menyelamatkan diri. Akibatnya, Nyai Bagendit pun tenggelam bersama seluruh kekayaannya.

Banjir tersebut terus meluap hingga akhirnya membentuk sebuah danau besar. Danau itulah yang kemudian dikenal dengan nama Situ Bagendit, sebagai pengingat akan kisah Nyai Bagendit dan pesan moral tentang keserakahan, kepedulian, serta pentingnya berbagi kepada sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here