Upacara Adat Sunda untuk Pernikahan: Rangkaian Prosesi Penuh Makna

0
51
Upacara Adat Sunda untuk Pernikahan
Upacara Adat Sunda untuk Pernikahan: Rangkaian Prosesi Penuh Makna | PrideBride

JURNALIFE – Pernikahan merupakan upacara sakral yang mengikat janji suci antara dua insan, tidak hanya di hadapan hukum dan agama, tetapi juga secara sosial dan budaya. Sebagai negara dengan keberagaman adat istiadat, Indonesia memiliki berbagai tradisi pernikahan yang sarat nilai luhur, salah satunya adalah pernikahan adat Sunda.

Pernikahan adat Sunda dikenal memiliki rangkaian prosesi yang cukup panjang dan penuh filosofi. Tidak hanya dilaksanakan pada hari H pernikahan, sejumlah ritual telah dimulai beberapa hari bahkan hingga satu minggu sebelumnya melalui berbagai prosesi pranikah. Setiap tahapan memiliki makna mendalam sebagai doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga calon pengantin.

Berikut Rangkaian Lengkap Upacara, Ritual dan Prosesi Pernikahan Adat Sunda

1. Neundeun Omong (Menyimpan Janji)

Neundeun Omong merupakan prosesi awal dalam pernikahan adat Sunda yang berarti “menyimpan janji”. Prosesi ini dilakukan untuk memastikan bahwa calon pengantin wanita belum menerima lamaran dari pihak lain.

Dalam ritual ini, orang tua calon mempelai pria datang menemui orang tua calon mempelai wanita untuk menanyakan kesediaan serta menyampaikan niat baik secara informal. Tradisi ini lebih sering dilakukan pada masa lampau, ketika perjodohan kerap terjadi jauh sebelum anak-anak siap menikah.

2. Narosan atau Nyeureuhan (Lamaran)

Setelah Neundeun Omong, prosesi dilanjutkan dengan Narosan atau lamaran resmi. Pada tahap ini, keluarga calon mempelai pria membawa sirih lengkap beserta uang pengikat sebagai tanda kesanggupan untuk ikut membiayai pernikahan.

Selain itu, calon mempelai pria juga menyerahkan cincin meneng atau cincin belah rotan yang melambangkan ikatan awal antara kedua calon mempelai.

3. Nyanggakeun (Seserahan)

Nyanggakeun atau seserahan adalah prosesi penyerahan berbagai perlengkapan pernikahan dari pihak pria kepada pihak wanita. Isinya dapat berupa uang, pakaian, perhiasan, perabot rumah tangga, hingga makanan.

Pihak calon mempelai wanita biasanya akan membalas dengan seserahan kepada pihak pria. Prosesi ini umumnya dilakukan tujuh hingga satu hari sebelum hari pernikahan. Penataan seserahan yang indah juga menciptakan suasana hangat dan romantis.

4. Ngeuyeuk Seureuh

Ngeuyeuk Seureuh dipimpin oleh seorang pangeuyeuk dan diiringi kidung tradisional Sunda. Dalam prosesi ini, kedua calon pengantin meminta izin serta doa restu dari orang tua.

Calon pengantin akan disawer beras sebagai simbol harapan hidup sejahtera, lalu dipukul perlahan dengan sapu lidi sambil diberi nasihat kehidupan rumah tangga. Prosesi dilanjutkan dengan membelah mayang jambe dan buah pinang, serta menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali oleh calon mempelai pria sebagai simbol kesiapan membina rumah tangga.

5. Membuat Lungkun

Masih dalam rangkaian Ngeuyeuk Seureuh, prosesi Membuat Lungkun dilakukan sehari sebelum pernikahan dan hanya dihadiri keluarga terdekat.

Dua lembar daun sirih bertangkai digulung memanjang, diikat dengan benang kanteh, lalu diperlihatkan kepada orang tua dan tamu. Maknanya adalah harapan agar pasangan kelak memperoleh rezeki berlimpah yang dapat dibagikan kepada keluarga dan kerabat.

6. Berebut Uang

Prosesi Berebut Uang dilakukan di bawah tikar sambil disawer. Tradisi ini melambangkan semangat bekerja keras dalam mencari rezeki serta harapan agar pasangan selalu disayangi oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

7. Ngebakan atau Siraman Pernikahan

Menjelang hari pernikahan, calon mempelai wanita menjalani prosesi siraman yang bertujuan menyucikan diri secara lahir dan batin. Siraman biasanya dilaksanakan pada siang hari di kediaman calon mempelai wanita.

8. Ngecakeun Aisan

Prosesi ini diawali dengan keluarnya calon mempelai wanita dari kamar dan digendong secara simbolis oleh sang ibu. Sementara itu, ayah berjalan di depan membawa lilin menuju tempat sungkeman sebagai lambang penerang jalan hidup.

9. Ngaras

Ngaras merupakan prosesi permohonan izin dan restu dari orang tua. Calon mempelai wanita melakukan sungkeman sekaligus mencuci kaki kedua orang tua sebagai simbol bakti dan rasa terima kasih.

10. Pencampuran Air Siraman

Pada tahap ini, kedua orang tua mencampur air siraman yang berasal dari tujuh macam bunga wangi atau bunga setaman. Air ini melambangkan kesucian, doa, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis.

11. Siraman

Diiringi musik kecapi dan suling, calon mempelai wanita menuju tempat siraman dengan menginjak tujuh helai kain. Prosesi penyiraman dimulai oleh ibu dan ayah, lalu dilanjutkan para sesepuh. Jumlah penyiram harus ganjil, biasanya 7, 9, atau 11 orang.

12. Ngerik atau Potong Rambut

Prosesi terakhir adalah Ngerik atau pemotongan rambut calon mempelai wanita sebagai simbol mempercantik diri lahir dan batin. Dilanjutkan dengan Ngeningan, yaitu menghilangkan bulu halus di wajah, kuduk, membentuk sinom, godeg, dan kembang turi sebagai persiapan menuju hari pernikahan.

Upacara pernikahan adat Sunda bukan sekadar tradisi, melainkan rangkaian doa, nasihat, dan simbol kehidupan yang mengajarkan nilai kesopanan, tanggung jawab, serta keharmonisan dalam membina rumah tangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here