Sejarah Kesenian Sisingaan (Gotong Singa) yang berasal dari Kabupaten Subang

0
69
Sejarah Kesenian Sisingaan
Sejarah Kesenian Sisingaan (Gotong Singa) yang berasal dari Kabupaten Subang

JURNALIFE – Sisingaan atau Gotong Singa yang juga dikenal dengan sebutan odong-odong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat khas Sunda yang berasal dari Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Kesenian ini menggunakan media berupa tandu berbentuk singa yang diangkat oleh empat orang, sementara di atasnya ditunggangi oleh satu orang, pada umumnya seorang anak kecil.

Pertunjukan Sisingaan selalu diiringi musik tradisional, sehingga para pengangkat tandu bergerak mengikuti irama dengan gerakan tarian yang dinamis.

Asal-Usul Sisingaan

Pada awalnya, masyarakat Sunda di Subang telah mengenal kesenian usungan dengan bentuk burung, kijang, siluman, dan hewan lainnya yang ditandu secara beramai-ramai. Pada masa itu, belum dikenal usungan berbentuk singa seperti Sisingaan saat ini. Bentuk Sisingaan yang dikenal sekarang mulai berkembang sekitar tahun 1975.

Penciptaan Sisingaan tidak lepas dari pengaruh kesenian Reog Ponorogo yang masuk ke wilayah Subang melalui kaum urban dari Ponorogo. Para seniman Sunda kemudian berdiskusi dan membandingkan Reog Ponorogo dengan Reog Dog-dog Sunda. Dari diskusi tersebut, muncul kesadaran bahwa Reog Ponorogo memiliki daya tarik kuat serta nilai filosofi dan catatan sejarah tentang perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Hal ini mendorong para seniman Sunda Subang untuk menciptakan sebuah kesenian baru yang mampu menampilkan identitas khas daerah Subang sekaligus mengandung nilai sejarah dan simbol perlawanan.

Makna Filosofis dan Simbol Perlawanan

Sisingaan terinspirasi dari cerita dalam tradisi Reog Jawa Timur, yang mengisahkan perjalanan para pengawal Raja Singa Barong dari Kerajaan Lodaya menuju Kerajaan Daha. Walaupun Raja Singa Barong dikenal bengis dan angkuh, para pengawalnya tetap setia memikul tandu sang raja sepanjang perjalanan.

Dalam konteks masyarakat Subang, singa juga dimaknai sebagai simbol penjajah Belanda, karena singa merupakan lambang VOC. Dengan demikian, Sisingaan menjadi lambang perlawanan rakyat Subang terhadap kesewenang-wenangan kolonial Belanda. Penyajian kesenian ini juga berfungsi sebagai media edukasi sejarah yang dikemas secara halus dan menghibur, terutama bagi generasi muda.

Perkembangan dan Penyebaran

Seiring perkembangannya, kesenian Sisingaan atau Gotong Singa ditiru dan dimodifikasi oleh daerah lain di Jawa Barat. Muncul kesenian serupa seperti Gotong Burok di Cirebon serta Gotong Domba di Sumedang dan Garut, yang sama-sama menggunakan hewan tiruan sebagai media tandu.

Di Kabupaten Subang sendiri, diperkirakan terdapat sekitar 200 kelompok Sisingaan yang tersebar di hampir setiap desa. Antusiasme masyarakat ini mendorong pemerintah daerah untuk menyelenggarakan Festival Sisingaan Kabupaten Subang setiap tahun. Festival tersebut menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus wadah prestasi, karena para pemenang berkesempatan tampil di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.

Penyebaran Sisingaan juga meluas ke daerah lain seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Purwakarta. Hingga kini, Sisingaan menjadi salah satu pertunjukan rakyat yang sangat digemari, khususnya dalam acara khitanan dan perkawinan.

Bentuk Pertunjukan dan Atraksi

Sebagai seni helaran (arak-arakan), Sisingaan dikemas secara atraktif dengan berbagai tambahan pertunjukan. Salah satu atraksi yang paling menonjol adalah jajangkungan, yaitu penampilan manusia bertubuh tinggi menjulang hingga sekitar 3–4 meter. Selain itu, pertunjukan juga dilengkapi bunyi-bunyian petasan yang dipasang menyerupai senapan untuk menambah semarak suasana.

Sisingaan berasal dari wilayah Kecamatan Purwadadi, Desa Neglasari, Kabupaten Subang. Dalam perkembangannya, bentuk usungan tidak hanya menyerupai singa, tetapi juga naga, elang, banteng, siluman, dan bentuk hewan lainnya. Namun, cara bermainnya tetap sama, yaitu membutuhkan empat orang untuk mengangkat tandu sambil diiringi musik dan gerakan tarian. Para pengusung menggoyangkan kaki dan badan sambil berjalan menuju lokasi acara, kemudian melakukan atraksi di tempat yang luas agar dapat menarik perhatian penonton.

Gerak dan Musik Pengiring

Pertunjukan Sisingaan diawali dengan tetabuhan musik yang dinamis, kemudian dilanjutkan dengan permainan Sisingaan oleh para penari pengusung. Ragam gerak yang ditampilkan antara lain: pasang atau kuda-kuda, bangkaret, ancang-ancang, gugulingan, sepakan dua, langkah mundur, kael, mincid, ewag, jeblag, putar taktak, gendong singa, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melak cau, nincak rancatan, hingga kakapalan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here