JURNALIFE – Sejarah Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional khas masyarakat Sunda yang berasal dari Jawa Barat. Alat musik ini terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi khas “klung” yang menjadi asal-usul namanya. Angklung dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga telah mendunia sebagai simbol kekayaan budaya Nusantara.
Sejarah angklung sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris. Pada masa lampau, angklung digunakan dalam ritual adat untuk memuja Dewi Sri, yaitu dewi padi dan kesuburan. Masyarakat Sunda meyakini bahwa bunyi angklung dapat menghadirkan keberkahan, kesuburan tanaman, serta hasil panen yang melimpah. Oleh karena itu, angklung kerap dimainkan saat upacara menanam padi, panen raya, hingga perayaan adat tertentu.
Secara fisik, angklung terbuat dari beberapa tabung bambu yang disusun dalam sebuah rangka. Setiap angklung menghasilkan satu nada tertentu, sehingga untuk memainkan sebuah lagu diperlukan kerja sama banyak pemain. Hal ini menjadikan angklung bukan sekadar alat musik, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai kebersamaan, kekompakan, dan gotong royong dalam masyarakat Sunda.
Perkembangan angklung semakin pesat pada abad ke-20 berkat peran Daeng Sutigna, seorang tokoh seni dari Jawa Barat. Ia mengembangkan angklung tradisional menjadi angklung bernada diatonis yang dapat memainkan lagu-lagu modern dan internasional. Inovasi ini membuat angklung lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan dan sering dipentaskan di panggung nasional maupun internasional.
Pengakuan dunia terhadap angklung semakin kuat ketika pada tahun 2010, UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Penetapan ini menjadi bukti bahwa angklung memiliki nilai budaya yang tinggi dan layak dilestarikan. Hingga kini, angklung banyak diajarkan di sekolah, sanggar seni, serta ditampilkan dalam berbagai acara budaya dan diplomasi internasional.
Sebagai alat musik tradisional Sunda, angklung bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga cerminan identitas, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.



























